Pernah nonton Sex and The City?Tau Carrie Bradshaw dong ya? Yankees perempuan yang sexy, cantik, cerdas, mapan dan selalu percaya diri dengan “kediriannya”. Seorang kolumnis, editor majalah mode ternama, trend setter mode di New York. Perempuan dengan ciri “having it all” pada masanya.
Saya mengikuti frasa persahabatan kelompok perempuan ini dari mereka umur 30 tahun, hingga session terakhir Samantha menghadapi problem pre-menopouse. Di saat yang sama sahabatnya sedang asik-asiknya mengalami fase motherhood membesarkan anak-anak mereka yang tumbuh remaja.
Kisah Carrie, Samantha, Miranda dan Charlotte ini hanya sedikit symbol, penanda munculnya perempuan “generasi ketiga”. Yang tidak lagi bicara masalah kesetaraan, problem genital dan kesehatan reproduksi perempuan, seperti pendahulu mereka aktivis-aktivis feminis radikal modern.
James Wolcott seorang pengamat budaya popular di Amerika Serikat, menggunakan istilah “postfeminist chicklit” untuk fenomena ini. Ini adalah reaksi pada beberapa generasi feminis yang berdebat di antara mereka sendiri tentang definisi feminisme, tentang nature vs nurture, dan pria jahat vs patriarki jahat. Perempuan-perempuan posfeminis ini adalah mereka yang memproklamirkan keperempuanan mereka, merayakan kesukariaan mereka, dan terbuka dengan definisi-definisi pakar, dan asumsi masyarakat.
Perempuan generasi ketiga, adalah mereka yang secara nyata memproklamirkan hidupnya untuk karir dan karya, yang bertolak belakang dengan cita-cita politik feminis radikal era sebelumnya, dan memandang feminisme sebagai anakronisme.Mungkin karena gerakan ini muncul, setelah perempuan mencapai kesetaraan hingga tidak perlu lagi ada gerakan protes. Satu hal lagi, gerakan posfeminisme ini seolah menegaskan bahwa tidak ada lagi ada dikotomi paradox tentang peran ganda perempuan sebagai manusia bergagasan dan peran naturalnya sebagai seorang ibu.Tentang dunia privat dan dunia publik, dimana keinginan menapak dan meperluas jejaring karirnya tidak perlu lagi menegasikan keinginannya membangun keluarga. Ini yang juga memicu munculnya “gerakan laki-laki baru”, banyaknya bermunculan “bapak rumah tangga”. Sebagai factor penyokong fenomena posfeminisme.
Banyak yang menganggap bahwa posfeminisme adalah gerakan antifeminis, feminisme “tanpa perempuan”, backlash dan reaksi buruk dari gerakan radikal feminis gelombang kedua. Betulkah begitu?
Menurut saya, meski di tanah air gerakan feminisme ini masih kelihatan “malu-malu”. Namun ini tidak semata menjadi kematian gerakan perempuan. Bisa jadi upaya dari penggabungan simultan, revisi, dan depolitisasi dari banyak tujuan utama gerakan perempuan gelombang kedua. Di sinilah posfeminisme mengalami pergeseran konseptual dari paham terdahulu, dari debat sekitar persamaan dan kesetaraan ke debat yang difokuskan pada “perbedaan”.
Di dalam prosesnya, posfeminis memfasilitasi konsepsi pluralistik, yang berbasis luas perihal penerapan feminisme, dan memusatkan perhatiannya pada tuntutan dari budaya yang dimarjinalkan, diaspora, dan yang terkoloni, bagi suatu feminisme nonhegemonik yang mampu memberikan suaranya pada feminisme lokal, pribumi, dan poskolonial.
Artinya meski banyak pendapat mengatakan ini cita-cita yang utopis, ada harapan yang tumbuh di luar konteks perdebatan sengit antara aktivis feminis itu sendiri. Harapan mengenai munculnya dunia perempuan yang semakin egaliter dan punya cirinya sendiri. Tidak harus melulu menuntut kesetaraan, tapi berdiri dengan identitasnya sendiri sebagai manusia yang memiliki sumbangsih utk lingkungan sekitarnya.
Sex and The City seolah membuka mata saya, bahwa bahkan di belahan dunia dengan tuntutan modernitas tinggi, nature of motherhood pun masih sesuatu yang dirindukan. Dan tidak perlu dibasmi dengan radikal. Hingga satu saat isu perempuan ini jadi seperti mitos dan dongeng, bagi manusia-manusia yang “sudah” egaliter.
artikel menarik :) salam kenal
ReplyDeleteTerima kasih, mas! salam kenal juga:)
DeleteMaaf telat membalas