Blogger Widgets

Saturday, February 16, 2013

Bedak dingin: Warisan tradisi masa lalu


Masker kecantikan dikenal sebagai salah satu metode perawatan kecantikan yang berusia cukup tua. Nyaris setiap kebudayaan di dunia ternyata memiliki tradisi pengaplikasian masker—yang diartikan sebagai adonan berisi aneka bahan dan rempah—dengan tujuan merawat kecantikan. Di nusantara sendiri, masker, yang dalam istilah tradisional bangsa kita dikenal dengan dengan sebutan bedak dingin, ternyata tak hanya digunakan di kalangan perempuan jawa saja, namun juga di nyaris seluruh pelosok negeri, mulai dari minangkabau hingga maluku. Diperkirakan diadopsi dari kebiasaan kaum perempuan India, ramuan awal bedak dingin adalah campuran bubuk gandum dan air mawar. Saat ini bedak dingin tradisional masih memiliki ramuan yang tak jauh berbeda. Perbedaan yang paling kentara adalah digantinya bahan gandum dengan beras.

Untuk mendapatkan efek terbaik bagi berbagai jenis kulit wajah, bahan bedak dingin dikombinasikan dengan aneka bahan alami lainnya. Untuk mengurangi kerutan dan flek hitam, selain dicampur air mawar, adonan juga dicampur dengan sari pinang muda seberat 3-5 gram untuk setiap satu kilogram beras. Pinang yang kaya asam galat dipercaya dapat berfungsi sebagai tabir surya. Pinang juga kaya polifenol, zat yang berfungsi sebagai antioksidan tubuh.

Bedak dingin juga bisa dimanfaatkan sebagai anti jerawat dengan menambahkan temulawak, pegagan, dan daun ketepeng ke dalam bahan intinya. Temulawak berfungsi untuk mengurangi sebum, melancarkan peredaran darah, dan membantu menyembuhkan infeksi; Pegagan dipercaya berkhasiat sebagai anti selulit dan juga memperlancar peredaran darah perifer; Sedang daun ketepeng dapat dijadikan anti kuman dan anti jamur.

Untuk mereka yang memiliki jenis kulit berminyak, adonan bedak dingin bisa dicampur dengan perasan jeruk peras untuk mengurangi kadar minyak sekaligus menjaga kelembaban kulit. Vitamin c di dalam jeruk juga berkhasiat mencerahkan kulit wajah.

Bedak dingin juga berkhasiat mengobati biang keringat jika ditambahkan biji Waron/ kasturi. rempah tradisional yang satu ini diyakini dapat meredakan ruam pada kulit, mengobati peradangan, dan menghaluskan permukaan kulit yang tidak rata. Seperti misalnya diakibatkan bekas jerawat.
Karakter bedak dingin tradisional yang cukup dikenal umum adalah wanginya yang khas. Wewangian yang diperoleh dari bahan alami ini biasanya didapat dari ekstrak berbagai jenis bunga seperti mawar, melati, dan kenanga. Selain itu bagi yang menyukai aroma yang lebih kuat, bahan seperti akar wangi (Andropogon zizaniodes) dan batang cendana bisa juga menjadi pilihan. Yang pasti penggunaan parfum alami dari bahan organik ini tak akan mengakibatkan alergi, bahkan pada kulit sensitif sekalipun.

Sama halnya seperti makanan yang dikonsumsi tubuh, kulit pun perlu menghindari penggunaan kosmetik dan produk perawatan yang berbahan dasar anorganis (kimiawi). Membiasakan diri menggunakan bedak dingin secara rutin adalah metode perawatan kulit wajah yang ideal. Meskipun efek yang diharapkan tidak instan layaknya pengaplikasian produk modern, namun scara perlahan, bedak dingin akan memberikan hasil yang memuaskan dengan resiko yang minim.

Padmita House of Beauty, dengan didasari semangat untuk melanjutkan legacy tradisi kecantikan nenek moyang, juga berkeinginan untuk menggali resep dari masa lalu ini. Dengan penggunaan bahan yang alami dan tanpa bahan pengawet, bedak dingin Padmita tak hanya bertujuan untuk memberi efek perawatan yang memuaskan, tetapi juga membagi semacam pengalaman lintas zaman. Pengalaman para perempuan di masa lalu, yang memaknai kecantikan sebagai konsekuensi bersinergi dengan alam, alih-alih terbujuk slogan produsen kosmetik terkemuka, yang menjanjikan kecantikan instan dan permukaan.

No comments:

Post a Comment