Sudah bukan hal yang aneh untuk
mendengar perdebatan panjang mengenai makna valentine. Mulai dari pihak ultra
konservatif, hingga para nasionalis yang cenderung “alergi” pada berbagai
produk budaya barat, sepakat bahwa hari valentine tak bermakna khusus, atau bahkan bermakna negatif. Padahal ditinjau dari sejarahnya, hari valentine
mengandung banyak nilai luhur, seperti pengorbanan, keberanian, keteguhan hati,
dan (pastinya) kasih sayang. Valentine sebenarnya merupakan perayaan liturgikal
didedikasikan kepada Santo Valentinus, yang hidup di Roma pada abad ke-3 M.
Santo Valentinus menentang kebijakan kekaisaran Roma dengan memberikan sakramen
pernikahan bagi para tentara muda Roma. Padahal saat itu penguasa Roma melarang
tentara muda untuk menikah, apalagi di bawah nama kristus. Perbuatan Valentinus
menyeretnya ke penjara hingga pada akhirnya ia dihukum mati. Legenda menyebut
sebelum hukuman matinya, Santo Valentinus menulis sebuah “kartu valentine”
untuk puteri penjaga penjara—di mana Valentinus telah jatuh hati kepadanya.
Saat ini, hari yang semestinya
dirayakan untuk memperingati pengorbanan Santo Valentinus ini justru dirayakan di
ruang-ruang komersil seperti mall, pertokoan, bioskop, galeri, dsb. Dengan
didominasi interior berwarna pink, pita-pita, dan juga berbagai aksesori
berbentuk hati; makna valentine bergeser menjadi semacam ornamen kebudayaan
yang dirayakan semata ajang berbelanja saja. Makna kasih-sayang pun berubah,
ketika pembuktiannya ditandai dengan sekadar berbelanja barang-barang bertajuk “valentine goods” untuk orang yang dikasihi. Di Amerika
Serikat—negera dengan angka konsumsi tertinggi di dunia—setiap kali valentine
dirayakan, warganya menghabiskan uang untuk membeli 180 juta tangkai bunga
mawar, 36 juta kotak
cokelat, dan pernak-pernik valentine senilai 14 milyar dollar (berdasarkan data
yang disebut History Channel). Valentine memang peluang emas untuk bagi para
kapitalis jeli. Jutaan manusia tak ragu membelanjakan uang untuk membeli
berbagai barang—yang dalam logika kontemporer, adalah benda yang semestinya
diberikan pada yang terkasih di hari kasih-sayang. Lantas benarkah klau hari
valentine adalah sebuah festival yang dangkal makna?
Kalau dicermati lebih jauh, gejala demam belanja seperti ini tak
hanya terjadi pada hari valentine saja. Saat Idul fitri, mall dan pertokoan
memasang bentuk ketupat dan warna hjau sebagai ornamen toko. Bebagai diskon dan
rayuan konsumerisme tersebar di setiap sudut ruang publik. Idul fitri pun
berubah menjadi “lebaran,” seperti halnya momen penyucian bergeser maknanya
menjadi momen mudik dan “beli baju baru”. Dilihat dari sisi ini, valentine pun
sebenarnya ada di posisi yang sama dengan festivity
days yang lain, mereka adalah korban eksploitasi strategi pasar.
Kita hidup di zaman di mana kekayaan tersimpan lebih banyak di
sistem finansial dari pada di lahan ekonomi yang real. Kita hidup di zaman di
mana kata “to consume” bergeser dari
arti “to destroy, to waste up, to exhaust,”
menjadi “to resonate pleasure, enjoyment,
and freedom.” Tanpa kita sadari ada enjoyment dalam aktivitas konsumsi, dan
para pemodal kontemporerlah yang menyadari hal ini. Alih-alih menjual dengan
menonjolkan aspek fungsional dan nilai konkret suatu barang, pedagang
kontemporer justru gencar menjual imaji akan tingginya nilai barang jualan
mereka. Valentine adalah ajang menebar imaji akan nilai kasih-sayang, dan
peluang inilah yang dimanfaatkan para penjual untuk marking up barang dagangan mereka.
Jadi pada dasarnya bukan nilai yang terkandung dalam hari
valentine yang sarat masalah. Jika kita mau jujur mengakui, banyak momen
perayaan yang kita salah artikan sebagai ajang menghamburkan uang semata. Ada
baiknya jika setiap cultural
signification akan sebuah hari kita telaah dari berbagai sisi. Mengambil hikmah
dari sebuah kejadian adalah sikap yang paling baik untuk turut merayakan
sesuatu. Saat valentine tiba, mungkin lebih baik kalau kita melakukan sesuatu yang sangat
bermakna bagi orang yang dikasihi, tanpa harus menceburkan diri dalam rawa consumer-fever.

No comments:
Post a Comment