Jika
konsepsi akan kecantikan demikian elastisnya, kita tentu berharap adanya sebuah
nilai “sejati” akan makna kecantikan, satu titik tolak di mana perdebatan antar
sudut pandang ter-redam oleh satu basis yang tak terperdebatkan lagi. Sejauh
manusia menggali sejarah dirinya, kita akan selalu sampai di dasar kesadaran
yang paling tua, sebuah tata nilai archaic
yang belum “ternoda” oleh mekanisme kultur dan semangat komunal dalam
satu suara sepakat. Nilai tersebut adalah nilai “natural” yang
strukturnya hadir jauh
sebelum manusia memiliki dimensi persepsi atau kesadaran.
Evolutionary psychology telah menelaah bahwa nilai cantik
dibangun dari dua arah. Tak hanya ciri fisik bawaan kita yang dibentuk secara
perlahan oleh kebudayaan sedari nenek moyang kita mulai aktif membangun
peradaban, namun sikap dan preferensi kita akan nilai cantik juga dibentuk oleh
proses seleksi alam. "Cantik” adalah sebuah daya tarik, suatu appeal yang
menjadi magnet bagi para perseptor
untuk lebih memilih objek yang bernilai cantik ketimbang yang tak
cantik. Daya
tarik ini hadir di masa archaic sebagai daya tarik fungsional, di mana
individu
tertentu tampak memiliki appeal lebih besar dari pada yang lainnya.
Contoh
paling mudah adalah bagaimana perempuan dengan pinggul besar, cenderung
lebih
appealing daripada mereka yang berpinggul kecil, hal ini dikarenakan
perempuan berpinggul besar lebih subur dan mudah bersalin. Karakter
dasar ini--seperti juga karakter simetrisnya wajah,
youthfullness, kesegaran kulit, proporsi tubuh, dsb--merupakan takaran yang menyeleksi
nilai “cantik” dan “tak cantik”. Karenanya meski setiap
kebudayaan membentuk nilai cantiknya sendiri-sendiri, ada semacam garis merah yang
membungkus makna kecantikan pada satu takaran yang sama.
Wajah
sebagai unsur yang memikat subjek lain, memiliki takaran subjektif
ketika dipertanyakan nilai cantiknya: apakah cantik itu berhidung
mancung atau mungil; berbibir tipis atau
tebal; berkulit gelap atau terang, dsb. Sebetulnya hal ini bisa dilaah
pula melalui evolutionary psychology,
di mana ditemukan bahwa kaum laki-laki lebih memilih
perempuan dengan level estrogen tinggi. Hal ini dikarenakan perempuan
yang memproduksi banyak hormon estrogen cenderung lebih subur dan
mudah melahirkan (suatu alasan mekanis pertahanan spesies). Perempuan
menghasilkan hormon estrogen dalam jumlah besar di
usia muda mereka. Karenanya tanpa disadari kita senantiasa mengkaitkan
kecantikan dengan youthfullness/kemudaan.
Dari fakta ini ditemukan kesimpulan bahwa
nilai kecantikan wajah yang paling general (=diakui semua kebudayaan)
sebenarnya adalah wajah yang muda, yang meliputi karakter: segar,
kencang,bersih dan sehat.
No comments:
Post a Comment