Blogger Widgets

Tuesday, February 12, 2013

Beauty is—not—In the eye of the Beholders

“Beauty is in the eye of the Beholders” merupakan pernyataan aksiomatis.  Wajar saja dianggap demikian mengingat gamut makna kecantikan yang nyaris tanpa batas. Kata “cantik” atau “indah” memang tidak hadir dengan sendirinya terkandung dalam suatu objek, melainkan disematkan oleh manusia penikmatnya. Adapun begitu, dimensi persepsi manusia bukanlah sesuatu yang mandiri-ada dengan sendirinya, melainkan dibangun secara berjamaah dalam kerangka kebudayaan. Karenanya nilai subjektif akan kecantikan pada dasarnya adalah sesuatu yang disetujui secara massal, meskipun dalam praktiknya tampak relatif dan idiosinkratik.

Jika konsepsi akan kecantikan demikian elastisnya, kita tentu berharap adanya sebuah nilai “sejati” akan makna kecantikan, satu titik tolak di mana perdebatan antar sudut pandang ter-redam oleh satu basis yang tak terperdebatkan lagi. Sejauh manusia menggali sejarah dirinya, kita akan selalu sampai di dasar kesadaran yang paling tua, sebuah tata nilai archaic yang belum “ternoda” oleh mekanisme kultur dan semangat komunal dalam satu suara sepakat. Nilai tersebut adalah nilai “natural” yang strukturnya hadir jauh sebelum manusia memiliki dimensi persepsi atau kesadaran.

Evolutionary psychology telah menelaah bahwa nilai cantik dibangun dari dua arah. Tak hanya ciri fisik bawaan kita yang dibentuk secara perlahan oleh kebudayaan sedari nenek moyang kita mulai aktif membangun peradaban, namun sikap dan preferensi kita akan nilai cantik juga dibentuk oleh proses seleksi alam. "Cantik” adalah sebuah daya tarik, suatu appeal yang menjadi magnet bagi para perseptor untuk lebih memilih objek yang bernilai cantik ketimbang yang tak cantik. Daya tarik ini hadir di masa archaic sebagai daya tarik fungsional, di mana individu tertentu tampak memiliki appeal lebih besar dari pada yang lainnya. Contoh paling mudah adalah bagaimana perempuan dengan pinggul besar, cenderung lebih appealing daripada mereka yang berpinggul kecil, hal ini dikarenakan perempuan berpinggul besar lebih subur dan mudah bersalin. Karakter dasar ini--seperti juga karakter simetrisnya wajah, youthfullness, kesegaran kulit, proporsi tubuh, dsb--merupakan takaran yang menyeleksi nilai “cantik” dan “tak cantik”. Karenanya meski setiap kebudayaan membentuk nilai cantiknya sendiri-sendiri, ada semacam garis merah yang membungkus makna kecantikan pada satu takaran yang sama.

Wajah sebagai unsur yang memikat subjek lain, memiliki takaran  subjektif ketika dipertanyakan nilai cantiknya: apakah cantik itu berhidung mancung atau mungil; berbibir tipis atau tebal; berkulit gelap atau terang, dsb. Sebetulnya hal ini bisa dilaah pula melalui evolutionary psychology, di mana ditemukan bahwa kaum laki-laki lebih memilih perempuan dengan level estrogen tinggi. Hal ini dikarenakan perempuan yang memproduksi banyak hormon estrogen cenderung lebih subur dan mudah melahirkan (suatu alasan mekanis pertahanan spesies). Perempuan menghasilkan hormon estrogen dalam jumlah besar di usia muda mereka. Karenanya tanpa disadari kita senantiasa mengkaitkan kecantikan dengan youthfullness/kemudaan. Dari fakta ini ditemukan kesimpulan bahwa nilai kecantikan wajah yang paling general (=diakui semua kebudayaan) sebenarnya adalah wajah yang muda, yang meliputi karakter: segar, kencang,bersih dan sehat.

Mengacu dari semua fakta tersebut, kita setidaknya dapat menyimpulkan bahwa makna kecantikan yang objektif sesungguhnya bisa diraih semua orang dengan cukup mudah. Memiliki fisik cantik tak perlu harus merubah struktur wajah dengan operasi, atau menambah dan mengurangi massa badan dengan ekstrim, atau juga merubah warna kulit menjadi cerah. Meraih kecantikan yang sejati (=alami) bisa diraih dengan menjaga kemudaan kulit wajah atau  menjaga proporsi massa tubuh secara sehat. Di luar segala jenis perawatan secara fisik ini, kita juga bisa meraih kecantikan sejati dengan memelihara kepercayaan diri. Orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi biasanya berkepribadian terbuka, ramah, dan optimis. Dengan segala bekal yang cukup sederhana ini, setiap orang bisa meraih kecantikan sejatinya masing-masing.

No comments:

Post a Comment