Blogger Widgets

Wednesday, February 27, 2013

Kosmetik yang eco-friendly dan pilihan menjadi cantik




Seringkali kita ditawari mbak-mbak kasir di supermarket: “mau menggunakan kantong plastik atau eco bag.” Sering juga kita lihat berbagai kemasan dilabeli: “eco-friendly” atau “no animal-testing.”  Apa perlunya gestur semacam ini dilakukan? Atau jika kita hendak bersikap skeptis, mungkinkah segala prefiks “eco” (eco-bag, eco-friendly, eco-capitalism, dst..) ini sekadar trend yang didalangi kaum pemodal, sebagai upaya membangun citra bahwa dagangan mereka juga punya nilai lebih?

Mungkin isu ekologi baru mulai populer di tahun 1960-an, namun sama tuanya dengan polutan industri petama kali dilepas ke udara (:revolusi industri), isu pelestarian lingkungan hidup pun sebenarnya sudah mulai membayangi kesadaran manusia sejak abad ke-19.  Hukum enviromentalis modern tertua yang pernah tercatat mungkin adalah British Alkali Acts di tahun 1863; yang mengatur jumlah residu polutan hydrochloric acid di udara. Dari fakta ini, bisa dibayangkan, kecemasan manusia akan kelestarian lingkungan hidup sebenarnya sudah ada bahkan sebelum Green Politics lahir menjadi salah satu ideologi modern dominan. Mungkin jauh di dalam kesadarannya, manusia menyadari bahwa ada konsekuensi besar saat kita bermain-main dengan alam di luar mekanisme naturalnya.

Isu ekologi memang sarat polemik. Mereka yang pragmatis dan cenderung berpihak pada aspek ekonomis saja, lebih sering menganggap bahwa isu ini berlebihan. Ada semacam keyakinan bahwa manusia dengan tools berupa kebudayaan memang berhak untuk  mengambil alih alam untuk kepentingan mereka sendiri. Oposisi culture versus nature pun muncul, dengan nature sebagai inferiornya culture.Yang lebih menarik, adalah berkembangnya sudut pandang lanjutan yang merelasikan hubungan antara opresi nature oleh culture, dengan opresi dalam sistem patriarkal dimana kaum pria dianggap lebih superior terhadap kaum wanita. Sudut pandang yang diberi istilah ekofeminisme ini pun lahir digawangi oleh para ekofeminis seperti Francoise d’Eaubonne, Vandana Shiva, dan Freta Gaard.

Menurut Vandana Shiva kaum perempuan memiliki koneksi khusus dengan alam, melalui suatu intraksi keseharian yang di masa patriarki modern telah dilupakan—bahkan oleh kaum perempuan itu sendiri. Shiva juga berkata bahwa “kaum perempuan adalah sumber daya yang menghasilkan kekayaan sebagai hasil partnership dengan alam, dan dengan sendirinya telah menjadi semacam ahli dalam pengetahuan ekologis dan holistis akan berbagai proses-proses alam.”

Terlepas dari perdebatan akan kebenaran klaim Shiva ini, tapi jika diperhatikan memang ada semacam kesamaan antara karakter dasar alam dengan arketipal kaum ibu dalam mitologi dan kisah-kisah masa lalu. Karakter seperti sustainabality,mengabdi tanpa batas, dan resorcefulness tampaknya memang sama-sama mendasari kompleksi kaum perempuan dan alam. Tapi kemudian mencermati karakter perempuan termutakhir, rasanya klaim ini jauh dari benar. Perempuan masa kini terseret juga dalam ramainya ambisi materialisme. Perempuan menjadi egois, berupaya membangun citra diri yang sesuai dengan kesepakatan umum (=kesepakatan kaum pemodal); berupaya menjadi cantik seperti yang dikomando oleh iklan dan slogan para pedagang. Perempuan masa kini laiknya semacam partner “culture” dalam menggerus “nature.”
Kembali mengupas demam prefiks serba “eco” yang agaknya dilakoni para pemodal sebagai strategi pemasaran. Mungkin memang benar semangat tulus ekologis telah terkomodifikasi, namun di lain pihak trend “ecofriendly” ini sesungguhnya bisa dijadikan momentum untuk menjadikan mesin kapitalis untuk mendukung isu lingkungan hidup. Kaum perempuan—yang dalam opini ini—memiliki kedekatan khusus dengan alam, baiknya berkampanye aktif untuk mendukung trend serupa.

Hal terkecil yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan kebijakan industri dengan memilih produk yang ecofriendly. Industri kosmetik adalah salah satu industri terbesar yang dikendalikan selera kaum perempuan dalam memproduksi barang dagangannya. Jika trend yang berjalan adalah bibir berwarna merah mengkilap, maka industri kosmetik akan berlomba menghasilkan lipstik dengan efek bibir merah mengilap. Begitupun jika kebanyakan dari kita menginginkan produk yang ramah lingkungan, produsen pun akan berlomba untuk memproduksi kosmetik yang ecofriendly.



Di luar negeri trend kosmetik ecofriendly sudah berjalan cukup lama. Produk-produk seperti Aveda, Dr. Hauschka, Vichy, dan Yves Rocher hanya sekian dari banyak perusahaan yang berlomba dalam kampanye pro ekologi. Berbagai strategi kreatif pun dijalani, seperti misalnya yang dilakukan Cargo, produsen kosmetik asal AS ini menawarkan produk lipstick yang kemasannya unik dibuat dari bahan biodegradable dan juga mengandung biji tumbuhan. Jadi tak hanya menghindari limbah tak terurai, namun saat kita membuang kemasan kita juga ikut menanam pohon.  Isu ekologi dalam produksi kosmetik juga memberi keuntungan tersendiri bagi konsumennya. Selain ikut menyokong berbagai gerakan hijau, produsen kosmetik yang peduli lingkungan juga biasanya menggunakan bahan organik yang aman untuk dikonsumsi kaum perempuan. Jadi dengan membeli kosmetik eco-friendly dengan sendirinya kita membeli kualitas juga.

Sayangnya kompetisi di areal “hijau” ini tampaknya tak terlampau menjadi isu di produsen kosmetik dalam negeri. Produk impor yang ada pun kebanyakan tak menjadikan aspek “eco-friendly” sebagai nilai unggulnya. Mungkin hanya produk the Body Shop yang kentara menyuarakan kampanye hijaunya. Dengan keunggulan menggunakan green electricity dalam proses produksinya, the Body Shop menjadi merk pilihan untuk kaum perempuan yang ingin turut mendukung pelestarian lingkungan hidup. Selain gencar menyuarakan green campaign, merk yang satu ini juga memiliki keanggunan tersendiri dengan menolak memproduksi produk pemutih. Dengan alasan bahwa warna kulit bukanlah parameter kecantikan kaum perempuan, the Body Shop secara tak langsung juga mengkampanyekan nilai kecantikan yang pluralistik.

Mungkin sudah saatnya kita kaum perempuan menyadari bahwa selera kita akan nilai cantik rentan dipengaruhi strategi pasar para produsen kosmetik. Dengan memilah produk tak hanya dari kualitas barangnya saja, akan tetapi dengan memperhatikan cause apa yang didukung si merk yang hendak kita beli, setidaknya dalam aktivitas konsumsi pun kita bisa menyumbangkan sesuatu yang idealistik untuk lingkungan sekitar.

No comments:

Post a Comment