Belakangan
berkembang penggunaan berbagai istilah yang berawalan Eco- (seperti: ecofriendly, ecoproduct, ecobag, dsb.), dan kini muncul
istilah ecobeauty. Jika digali lebih jauh frasa yang dibangun dua kata ini—eco
dan beauty—sebetulnya adalah satu kesatuan makna, karena prefiks “eco-“ (yang
mewakili ecosystem atau ecology) sebetulnya menjadi sine qua non bagi kata “beauty.”
Kecantikan tanpa mengindahkan lingkungan di sekitarnya bukanlah kecantikan
sejati. Karena sungguh kita ini bagian dari alam sekitar kita, bahkan bisa
dibilang kita adalah “produk” lingkungan kita sendiri. Kecantikan ada karena
alam, atau lebih tepatnya kecantikan diproduksi oleh alam. Meskipun kita mengembangkan
pemahaman diri melalui kebudayaan, yang secara kasat mata tampak terpisah dari
alam, namun nature dan culture sesungguhnya adalah satu kesatuan. Tengok saja kosakata
Bahasa Indonesia yang senantiasa mengambil nilai keindahan alam dalam menggambarkan
kemolekan wajah atau tubuh, semisal: alis bagai semut berderet, dagu bagai
lebah bergantung atau bibir bagai merah delima.
Jadi parafrase ecobeauty
semestinya tidak dihayati sebagai tred saja. Ecobeauty tidak semata menjadi
label bagi produk kecantikan dengan kandungan alami, atau kemasan kosmetik yang
biodegradable misalnya; Ecobeauty adalah kecantikan itu
sendiri, yang berawal, mengakar, dan menimbang pada alam dan lingkungan
sekitar. Menjadi perempuan dengan kecantikan sejati seyogianya menyadari arti
penting cantik yang kembali ke alam, atau tepatnya kembali menakar pada kepentingan
alam—alih-alih pada takaran manusianya saja. Nyatanya kita tak akan memiliki
kulit halus dan minim oksidasi tanpa udara yang bersih, yang terbebas dari senyawa
beracun dan radikal bebas. Selain itu tak akan pernah ada ramuan penangkal
sinar matahari, bahkan yang ber-SPF (Sun Protection Factor) level 100 pun, yang
mampu menyaingi kehandalan lapisan ozon dalam menangkal berbagai berkas sinar berbahaya
sang mentari. Serajin apapun kita membersihkan wajah, tak mungkin bersih
sempurna jika air yang digunakan tercemar besi, mangan, dan unsur kimiawi
lainnya yang merusak kulit. Singkatnya kita perlu menanamkan pemahaman, untuk
merawat kecantikan diri, yang perlu juga dilakukan adalah merawat lingkungan
sekitar.
No comments:
Post a Comment