Blogger Widgets

Wednesday, March 20, 2013

Menalar Frasa Eco-Beauty



 Belakangan berkembang penggunaan berbagai istilah yang berawalan Eco- (seperti: ecofriendly, ecoproduct, ecobag, dsb.), dan kini muncul istilah ecobeauty. Jika digali lebih jauh frasa yang dibangun dua kata ini—eco dan beauty—sebetulnya adalah satu kesatuan makna, karena prefiks “eco-“ (yang mewakili ecosystem atau ecology) sebetulnya menjadi sine qua non bagi kata “beauty.” Kecantikan tanpa mengindahkan lingkungan di sekitarnya bukanlah kecantikan sejati. Karena sungguh kita ini bagian dari alam sekitar kita, bahkan bisa dibilang kita adalah “produk” lingkungan kita sendiri. Kecantikan ada karena alam, atau lebih tepatnya kecantikan diproduksi oleh alam. Meskipun kita mengembangkan pemahaman diri melalui kebudayaan, yang secara kasat mata tampak terpisah dari alam, namun nature dan culture sesungguhnya adalah satu kesatuan. Tengok saja kosakata Bahasa Indonesia yang senantiasa mengambil nilai keindahan alam dalam menggambarkan kemolekan wajah atau tubuh, semisal: alis bagai semut berderet, dagu bagai lebah bergantung atau bibir bagai merah delima.

Jadi parafrase ecobeauty semestinya tidak dihayati sebagai tred saja. Ecobeauty tidak semata menjadi label bagi produk kecantikan dengan kandungan alami, atau kemasan kosmetik yang biodegradable misalnya; Ecobeauty adalah kecantikan itu sendiri, yang berawal, mengakar, dan menimbang pada alam dan lingkungan sekitar. Menjadi perempuan dengan kecantikan sejati seyogianya menyadari arti penting cantik yang kembali ke alam, atau tepatnya kembali menakar pada kepentingan alam—alih-alih pada takaran manusianya saja. Nyatanya kita tak akan memiliki kulit halus dan minim oksidasi tanpa udara yang bersih, yang terbebas dari senyawa beracun dan radikal bebas. Selain itu tak akan pernah ada ramuan penangkal sinar matahari, bahkan yang ber-SPF (Sun Protection Factor) level 100 pun, yang mampu menyaingi kehandalan lapisan ozon dalam menangkal berbagai berkas sinar berbahaya sang mentari. Serajin apapun kita membersihkan wajah, tak mungkin bersih sempurna jika air yang digunakan tercemar besi, mangan, dan unsur kimiawi lainnya yang merusak kulit. Singkatnya kita perlu menanamkan pemahaman, untuk merawat kecantikan diri, yang perlu juga dilakukan adalah merawat lingkungan sekitar.

No comments:

Post a Comment